Pernahkah kita menemukan, atau dari pengalaman hidup bertemu dengan seseorang yang gaya bicaranya meledak-ledak, serius, bahkan terkesan benar. Ciri khas ini mungkin bisa saja ditemukan esok hari saat kita berangkat kerja, ketemu di halte dan ngomong berkenalan sebentar, dan.. taksi datang dan kitapun berpisah dengannya. Dari pertemuan itu, kesan yang kita dapatkan bisa melebihi dari apa yang saya sebutkan tadi. Kalau kita bertemu dengan pria tentu ia akan banyak bicara latar belakang pekerjaannya bahkan segudang prestasi yang sudah ia raih. Atau ia larut dan ikut bersimpati dengan tetangganya yang baru saja mengalami musibah kebakaran serius, atau membicarakan gempa yang baru saja meluluh lantakkan negeri tirai bambu China belum lama tadi, atau bisa saja buat janjian dengan kita ditempat nongkrong anak muda presentasi sesuatu yang berbau multi level marketing yang sedang banyak digandrungi kaum muda yang haus kemapanan hidup, atao bicara ngalor ngidul ndak jelas githu. Kalau kita bertemu dengan wanita, tentu kelihatannya sedikit malu atau malu-maluin, ngomong masalah identitas, alamat rumah, nanya masalah kerja, ya, ujung-ujungnya nanya nomer Hp segala, yang buat kita gak terlalu penting. Ya, semua itu akan serba mungkin, apalagi saat kita bertemu dengan sorang remaja putus sekolah ggak tamat SD, yah. Ngomongnya jadi kita yang kebawa emosi, abis, tu anak jauh dari orang tuanya dikampung dan sekarang Cuma ikut sodara kerja jadi kuli gudang. Ia bicara pendidikan, SD pun tak tamat, jadi bikin kasian. Buat aku sih tak jadi masalah, apapun yang kita temui dan alami dari bertemu dengan manusia satu genetis dengan kita yah, anggap saja sebuah penemuan yang mungkin satu saat akan berguna buat bahan cerita bagi orang lain.
Nah, yang ingin aku share kan kali ini, bukan masalah ketemu dengan orang-orang yang gak jelas tadi. Tapi, aku ingin mengajak engkau, kamu dan kalian semua kembali merestorasi, menempatkan kembali impian, asa dan harapan apa sih yang ingin diwujudkan selama hidup masih dikandung badan ini. Aku pernah membaca ulasan Azrul Ananda, di jawa post yang CEO nya Dahlan Iskan_babenya Azrul, bahwa orang-orang tua senior kita yang umurnya sudah diatas 50 tahun akan merasakan hawa segar kembali yang menyenangkan bahkan gairah yang sempat menghilang entah kemana itu kembali bergelora, Azrul menamakan hidup lebih hidup, atau aku teringat sebuah film lawas layar perak berjudul puber kedua. Ya, ampun, ternyata makin tua makin seperti keladi, menjadi-jadi dan tambah jadi. Jadi tua, jadi gatal dan jadi biangnya. Wajar kalangan pengamat remaja tak sependapat bahwa kenakalan remaja bersumber dari salah pergaulan, melainkan datangnya kenakalan akibat orang tuanya sudah nakal duluan, jadi gak pernah disinggung kalau orang tua pun nakalnya minta ampun. Azrul menyebutnya evergreen, yup, judul ini di launching Jawa Post untuk melihat sisi lain dari sebuah kehidupan diusia paro baya, dan tidak selamanya hidup tua itu menjadi beban dan menyusahkan anak cucu nya sendiri. Hidup tua paro bayakah namanya, bisa saja menjadi sebuah inspirasi buat orang-orang yang butuh pencarian jati diri mereka. Ya, setidaknya kita pasti menggerutu atau paling tidak Cuma bisa bergumam dalam hati kalau itu, tu, wanita yang nun jauh diseberang jalan sana kayaknya, salah pake kostum, atau saltum, hare gene , ada nenek-nenek yang dulunya remaja masih terbisa pake tank tobs, ups, salah tank top. Ato kamu temukan lagi sampel lain ada kakek-kakek masih demen pake celana jeans pake anting, baju casual lengan digulung, wah..rasanya udah seperti preman, dan kabarnya emang preman kampung sebelah yang belum pada insaf, ya..kamu sebenarnya ketipu, jika ketemu orang yang kayak gituan, kalo ditanya mereka rata-rata gak bakalan tau jawabnya mengapa mereka kaya gitu? Itulah yang namanya latah, gak tau tujuan hidup, untuk apa pake anting, untuk apa bergaya funky Cuma baju dan asesori doang, gak taunya perawakan sudah pada kempot, ngomong aja seperti mengulum permen, ya untung sih kalau permennya one piece kalo permennya kuaret buble gum, gak tau dah kemana lidahnya muter-muter ngomongin yang gak jelas. Ah, tau ah. Sebagai manusia satu genetis, sejak ratusan tahun lalu manusia merintis jalan hidupnya masing-masing. Ada hidupnya di gua-gua, ada hidupnya diantartika yang dinginnya seperti masuk kedalam kulkas dibawah nol derajat, bahkan ada hidupnya dipadang pasir, nomaden, seperti suku badui. Dan adapula hidupnya di hutan belantara, ato yang bisa disebut orang utan. Orang utan kalimantan rata-rata menjadi pilihan para peneliti karena terbilang cukup mudah mengajarinya mandiri apalagi jika sianak orang utan, dibunuh induknya. Seolah manusialah jadi orang tuanya. Nah kalo yang satu ini kudu berhati-hati. Pasalnya, orang utan bisa saja menyerang. Karena pertumbuhannya bisa melebihi orang dewasa. Apalagi dikabarkan gorilla ato simpanse yang memiliki satu jalur genetis Cuma beda kelas dikabarkan berintelegensia yang cukup matang diatas rata-rata IQ manusia yang bodoh sekalipun. Namun, sampai kapanpun mereka hanya bisa merasakan, tak pernah berfikir seperti manusia yang diliputi emosi, dan kodrat menyayangi, berfikir dan berkembang. Soalnya binatang yang tidak berakal adalah binatang itu sendiri,s edangkan kelebihan manusia adalah hayawanunatiq, artinya hewan yang diberikan kesempurnaan akal. Manusia bisa berfikir, bagaimana hari ini, esok, kemarin dan lusa. Dan siap untuk berkembang maju pesat. Jadi kalo hare gene ada manusia yang gak maju-maju udah bisa dipastiin kalo ia gak mau berfikir keras mengatasi masalah hidupnya sendiri. Saya pernah membaca kaidah filsafat yang sampai saat ini kaidah yang terdiri beberapa rangkaian kata dalam bahasa nya para filsuf yunani tersebut mampu memberikan kekuatan menggugah semangat manusia.Cogito ergosum, manusia adalah makhluk yang berfikir, berarti kalo yang nggak berfikir bukan manusia dong, ya, pokoknya bukan dari jenis manusialah.
Kembali kepada tema share aku, sudah saatnya kita menemukan tujuan hidup kita, dan bukan saatnya lagi bermalas-malasan, bukan saatnya lagi tak tau arah tujuan, bahkan tidak ada waktu yang kita lewatkan secara percuma. Setiap detik yang kita lewati mungkin tak akan pernah kembali seperti rotasi bumi yang berputar menjadikan siang yang cerah bagi kita ato datangnya malam yang menggelapkan. Dan bukan pula bumi yang bisa diputar kembali ke titik nol oleh superman. Setiap detik yang hilang tidak akan pernah kembali. Nah, yang kita perlu kan hanyalah memperbaiki niat bagaimana, agar tiap hari kita selalu perbarui niat baik agar bermanfaat bagi orang banyak, bukan niat busuk yang terus dipendam dalam hati yang kapan-kapan kita bisa keluarkan busuknya saat kita mau. Ya, kata sebuah jargon shampoo yang gencar beriklan di Tv menyebutnya, hiasi lah hari-harimu karena hidup tak bisa menunggu. Betul, memang, hidup adalah putaran kehidupan, yang akan terus berputar selama hayat masih dikandung badan dan hidup tak bisa menunggu, sampai berhenti disatu titik yang jenuh, lalu akhirnya mati. Hidup tak bisa menunggu, karena masih banyak persoalan yang harus kita selesaikan. Perbarui kembali tujuan hidup kita di jalan yang benar bukan dijalan yang kita anggap benar karena kita skeptis, sambil belajar sambil mempraktekkan hidup. Belajar kebenaran, bukan belajar kesalahan, namun kita pasti diajarkan kesalahan karena kita tidak meminta, sementara kebetulan akan menyertainya, karena kita tau ada kesalahan yang memacu kita untuk selalu bertiindak benar disetiap tarikan nafas dan detik-detik kehidupan yang kita lalui, tentukan tujuan hidup mu dari sekarang! Berbuatlah lebih banyak kebaikan karena didalam kehidupan pasti terkandung bermiliaran solusi dari miliaran masalah. rafdiant. dedicated to blogshare